Sunday Jazz IV: For The Jazz's Sake, Just Let The Gigs Play OnSunday Jazz IV: For The Jazz's Sake, Just Let The Gigs Play On
[Uncluster/EventReview]---Minggu sore, 4 Juli 2010 15.00 WIB, alunan tembang-tembang jazz standar telah terdengar hangat dari CD player di meja kontrol suara ke seluruh sudut Potluck Coffee Bar & Library, Jl H Wasid Bandung. Gerimis ternyata tak mampu menyurutkan semangat Kang Diman dkk dari komunitas Klab Jazz, berbenah mempersiapkan panggung untuk Sunday Jazz IV Edisi Juli. Inilah kali keempat komunitas ‘virtual’ pencinta jazz—istilah yang dikatakan Kang Diman—, Klab Jazz, menghadirkan pentas bulanan gratis musik jazz di Potluck Coffee Bar.
Panggung hanya bertinggi sekira 20 cm dengan luas 3 x 4 m persegi dan terletak di halaman belakang sisi terdalam café (warkop). Dan seperti umumnya venue yang sering dipakai untuk gelaran jazz—musik yang esensinya berasal dari masyarakat miskin dan menjadi bahasa pergaulan di antara mereka serta ungkapan pemberontakan atas kemapanan melalui seni—Potluck bernuansa atomsfer café yang jauh dari mewah. .jpg)
“Kita tahu, bahkan café jazz terkenal di dunia di New York, Blue Note, di mana Chick Corea dan musisi jazz dunia sering tampil, jauh dari kesan mewah, bahkan space untuk si pemusik sangat sempit, dalam jarak tiga meter dari panggungnya, akan terlihat dan terdengar jelas seliweran kendaraan di jalan. Begitulah jazz,” jelas Kang Diman saat kami wawancarai.
Ada tiga gigs yang telah disiapkan Klab Jazz kali ini; Iman Brata Trio, Sonny Akbar Quartet dan Sandy Winarta Quartet. Dua nama pertama adalah mereka yang berdomisili di Bandung, sementara nama terakhir berasal dari Jakarta.
Pukul 15.30 (rencana pukul 15.00) gelaran itu pun dimulai, dan tanpa banyak pidato, Kang Diman, selaku “tuan rumah” acara ini memanggil Iman Brata Trio naik panggung. Diawali garukan gitar dan sound-effect yang tidak berlebihan Abank, sang gitaris grup ini menyuguhkan komposisi karya sendiri yang bertempo sedang, bertitel 'New Day'. Format trio ini mengingatkan penulis akan gaya kelompok jazz-fusion terkenal asal Prancis, UZEB. Tapi sang gitaris
bilang, “Kami menerima dan ingin mencoba aliran musik apapun, jadi saya rasa kalau kita terdengar seperti UZEB, kebetulan saja bernuansa itu. Kami masih mencari-cari, dalam pencarian,” candanya. Ada suguhan menarik yang mereka coba mainkan, 'Gambang Suling', lagu daerah Jawa Tengah dengan interpretasi (jazz tentunya) yang unik. Lagu ini dimainkan dengan ritme swing bernuansa rock yang begitu kental, namun orang takkan kebingungan jika mendengarnya, padahal jazz sering dibilang “rumit”. Abank memainkan gitar dengan gaya stacatto dan menggesek dawai gitarnya seperti pada biola. Mereka juga coba menginterpretasi lagu daerah Jawa Barat, 'Bajing Luncat', dengan aroma funk dan penuh syncope di dalamnya. Sayang, penyanyi Harti yang menjadi bintang tamu trio ini tak berkesempatan mengeksplorasi ‘kekuatan’ pita suaranya, mungkin ia ‘kagok’ berhubung arena café yang tidak luas, atau mungkin tiga lagu yang dinyanyikannya berentang oktaf pendek. Bandung dikenal banyak melahirkan talenta hebat di bidang musik, dan anak-anak muda Iman Brata Trio ini (Abank Kartadibrata Sulaiman-gitar, Gabriel-bas, Ade Sulaiman Kartadibrata-drum serta Harti-vokal) bisa dibilang salah satunya.
Di gig kedua, juga kelompok jazz asal Bandung, Sonny Akbar Quartet yang berintikan, Sonny Akbar-piano, Edward Manurung (drum), Tuwuh Sarwoprasodjo (bas) dan Arief Rinoko (sax). Kuartet ini—yang kali ini mengingatkan saya akan kelompok asal AS, Yellow Jackets—memainkan repertoar jazz yang standar, namun memikat. Permainan lincah jari Sonny pada tutsnya memperlihatkan jam terbangnya yang tinggi bermain di atas panggung. Mereka menghadirkan 'Exit Music' (Radiohead), 'Stolen Moment' lalu 'Caravan', dimana Arif seperti kesetanan, bermain solo menelusuri not-not melalui saksofonnya.
.jpg)
Sandy Winarta saat ini sering dijuluki Indonesian Most Wanted Drummer. Cah Bali ini adalah drummer dengan gaya bermain yang sangat lengkap, dan pantas saja sering bermain dengan banyak musisi jazz Indonesia (Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, Balawan, Barry Likumahuwa, Sarimanouk Quartet dan Pitoelas Big Band). Selain itu, Sandy membuat terobosan dengan membuka kursus dram secara online! Kuartetnya ini juga diawaki mereka dengan talenta hebat, Ali Akbar-piano (kibordis kelompok The Groove), Doni Sundjojo (contra bass) serta gitaris belia penuh talenta, Aditya Bayu. Mereka membuka gig dengan komposisi jazz klasik karya Herbie Hancock, 'Maiden Voyage'. Mereka berempat seolah melebur di atas stage, bermain dan berkomunikasi dalam bahasa jazz, dialektika jazz. 'So What' (Miles Davis), 'I’d Rather be Right' (Rodgers/Hart), 'All the Things You Are' dan 'Rhythm-a-Ning' (Thelonius Monk) dan diakhiri 'Sandhu' (Clifford Brown) mengalir indah dan progresif, dalam balutan emosi, tautan, komunikasi serta chemistry yang bersenyawa di antara mereka.
Satu catatan penulis, satu elemen dalam dialektika pentas jazz yang juga penting—bahkan paling penting—adalah para audiens. Keharmonisan pentas musik apapun wajib melibatkan “dialog musik” dengan penontonnya, maka audiens pun akan merasa menjadi aktor yang aktif di sana. Ini yang cukup banyak
musisi jazz Tanah Air belum biasa lakukan. Talenta-talenta muda jazz di Sunday Jazz—meski demikian—saya yakin punya keinginan dan kapabilitas seperti itu, hanya belum terbiasa. Ini penting, demi memajukan musik jazz di Indonesia yang saat ini seperti tertatih-tatih.
Event yang dihadiri sekitar 100-an penonton itu diakhiri pukul 19.00 dan tampaknya para apresiator jazz Kota Bandung menikmatinya dengan penuh kepuasan serta kehangatan di tengah gerimis dan cuaca dingin Kota Bandung yang menggigit, kemarin. See you on Sunday Jazz V! For the jazz’s sake, just let the gigs play on (although it is in the middle of rain)! [Rizkal Dicky Satriadi]