![]() |
![]() |
[Uncluster/Interview]---Band yang terbentuk di tahun 1999 ini merupakan salah satu band indiepop asal Yogyakarta yang terbilang sangat konsisten dengan cita-cita mereka dari awal. Beranggotakan Wahyu Nugroho / Acum (vokal/bass), Justinus Irwin (gitar), Dedyk Eryanto (drum), mereka terakhir kali merilis album berjudul “IX”, di akhir 2009 yang sengaja dibagikan gratis via sebuah net label asal Yogyakarta bernama Yesnowave.
Penampilan Bangkutaman di Singapura pada Mei 2009 merupakan pencapaian terbesar mereka setelah 10 tahun berkarya. Band ini pindah ke Jakarta, yang diawali oleh Acum dan Dedyk pada 2007 (masa dimana Bangkutaman dianggap vakum dan Irwin berkarya sendiri), tahun 2009 Irwin menyusul yang lainnya ke Jakarta, dan Bangkutaman pun berkumpul kembali.
Selain merilis karya, personil dari band ini aktif dan tercatat sebagai salah satu pelopor munculnya scene musik indiepop dan dan D-I-Y culture di Yogyakarta, terutama Wahyu yang merupakan founder dari Blossom Records, editor dari Shine Zine dan juga terlibat pada sebuah jaringan kerja kolektif yang berporos pada akselerasi scene indiepop di Yogya bernama Indiepop Rising Club. Sampai saat ini, walaupun mereka telah berdomisili di Jakarta tetapi mereka tetap aktif pada media tersebut.
Cerita singkat mengenai mereka di atas sepertinya sudah cukup untuk dijadikan alasan kenapa band yang satu ini akan sangat menarik untuk diinterview, dan karena kendala tempat, kami mewawancari mereka lewat email.
Hallo apa kabar Bangkutaman?
[Bangkutaman] Baik, sehat, dan excited.
Apa agenda terbaru kalian?
[Bangkutaman] Kita sedang mempersiapkan peluncuran dan propaganda album terbaru ODE BUAT KOTA yang insya Allah akan dirilis lewat label Janganmarah Records..jpg)
Bangkutaman pernah perform di Singapura, menurut kalian apa perbedaan yang sangat terasa dari penonton sana dengan di Indonesia?
[Dedyk] Yah, sekitar Bulan Juni 2009 kita perform di acara Rock The Region di Esplanade Theater, sangat menyenangkan bisa bermain di Singapore karena selain sebagai perayaan come-back nya Justinus Irwin, kita juga merayakan 10 tahun Bangkutaman sejak dari tahun 1999, selain itu memang sudah impian kita sejak lama bisa perform di luar negeri.
[Irwin] Dalam kategori penonton yang benar - benar baru dan asing, penonton di sana jauh lebih responsif karena memang tidak banyak acara musik di Singapura.
[Acum] Nggak jauh beda sih, Singapura penontonnya juga apresiatif, saking apresiatifnya, sampai-sampai mereka membeli semua CD dan merchandise kami :)
Bisa diceritakan sedikit mengenai EP kalian “Garage of the Soul” yang terjual 1000 kopi di Jepang?
[Dedyk] EP "Garage of the Soul" menurut gw adalah album transformasi dari LP sebelumnya (Love Among The Ruins, Red) dimana kualitas rekaman mulai diperhatikan dan aransemen sudah mulai menjelajah berbagai macam genre - genre yang lain, lagu seperti “Trapped in the Middle”, “She Burns The Disco”, “Satelit”, “Finding Rainbow” memiliki cita rasa yang mulai mengarah kepada pembentukan karakter bangkutaman sendiri yang semakin jelas, walaupun tidak seluruhnya dikatakan menghilangkan kesan Madchester yang sudah terlanjur dikenal sebelumnya. Yang pastinya merupakan kebanggaan tersendiri album tersebut bisa diterima di Jepang walaupun sebenernya pengen banget someday bisa perform juga di Jepang. Amiin.
[Irwin] Dari mana dapat angka 1000 itu? Saya tidak tahu Bangkutaman mencapai angka segitu. yang jelas itu kerja keras manajemen Bangkutaman :)
[Acum] Wah, ini saya sudah agak lupa, yang jelas sejak rilisnya "Garage Of The Soul" ada banyak permintaan, salah satunya Jepang. Saya lupa berapa copy, soalnya kami mengirimnya nggak semuanya, tapi berkala. Kaget juga Jepang cukup responsif akan kami.
Kira-kira apa hal baru dari rilisan kalian nanti (setelah "IX")?
[Dedyk] Masuk studio untuk aransemen materi-materi baru dan produksi album (LP) berikutnya yang alhamdulillah saat ini produksi sudah completely done dan tunggu kabar terbaru dari kita tentang rilis album yang nantinya akan dinamakan “Ode Buat Kota”. Untuk single “Ode Buat Kota” sudah bisa didenger di radio-radio dan di album “IX” juga single ini sudah bisa di-download, pastinya nanti kita kabari lewat uncluster.com.
[Irwin] Musik baru, album baru, konsep propaganda baru, video klip baru.
[Acum] Kemasan musik yang berkembang, tema-tema baru dimana kita banyak ngomongin realita.
Di akhir 90an dengan sekarang, atmosfer apa yang paling Bangkutaman rasakan tidak berubah dalam hal perform maupun dalam memproduksi karya?
[Dedyk] Dalam hal perform Jondyk masih dengan topi pancingnya dan Irwin tetap gak bisa lepas dari kemeja, perubahan terbesar ada pada sang vokalis yang mulai menggunakan bandana selepas bertapa di Bali-Lombok belum lama ini (ini soal penampilan) dan harmonica dalam setiap perform Bangkutaman, kemudian Bangkutaman juga kini sering dibantu oleh additional player (Madava, bass player dari Pestolaer/Candi Floss) yang sejak sekitar tahun 2007 mengisi suara keyboard, maracas, tambourine, backing vocal menambah warna tersendiri buat perform bangkutaman kini dalam produksi karya atmosfir kehidupan (pekerjaan, lingkungan, dll) dan lebih memperbaiki output kualitas rekaman dibanding album-album sebelumnya.
[Irwin] Atmosfer kerjasama dan kerja keras.
[Acum] Rekaman. Semua selalu terjadi dalam studio.
Sebelum rilis "IX", kalian vakum selama 3 tahun. Apa yang membuat hal itu terjadi?
[Irwin] “Pembelajaran” mungkin ya…serta tuntutan target hidup lainnya.
[Acum] J. Irwin sempat keluar dari Bangkutaman.
[Dedyk] Perpindahan domisili dari Jogja ke Jakarta, keluarnya Irwin dari Bangkutaman pada tahun 2005, dan kesibukan menata kehidupan selepas kuliah (pekerjaan) sehingga jarang waktu untuk berkumpul dan alasan-alasan klise lainnya, walau sebenarnya tidak juga benar dikatakan vakum karena masih suka manggung walau evennya gak besar, Jakarta Rock Parade, dan acara di luar kota seperti di Semarang dan Jogja pun masih sempat kita mainkan walaupun dengan versi Bangkutaman perjuangan dan banyak teman - teman yang membantu Bangkutaman waktu itu jadi memangnya jadi terkesan bongkar pasang mencari format yang ok selepas keluarnya Irwin, yah memang tahun - tahun itu adalah tahun-tahun sulit buat kita, makanya pada album IX “The Years of Juggling” didedikasikan pada masa2 tersebut yang alhamdulillah sudah kita lalui, dan pengalaman-pengalaman ini membuat kita lebih solid ke depannya.
Alasan kalian untuk menggratiskan album terbaru kalian?
[Irwin] Sesuatu yang belum pernah dilakukan Bangkutaman aja.
[Acum] Sesekali hal-hal gratis itu perlu.
[Dedyk] Penghargaan buat temen-temen pada masa-masa “The Years of Juggling”, seperti Nik, Angga pestolaer, Fadil, Madava, Nuki (our manager), Adit Pestolaer, Miki Pestolaer, Iwan John The King dan kebahagian kita pada akhirnya Irwin bisa berkumpul lagi (bukan reuni) tahun 2009 dan menetap di Jakarta, intinya itu adalah ekspresi dari kebahagiaan kita bisa melalui masa-masa itu dan perayaan 1 dekade (10 tahun) bangkutaman di belantika musik tanah air.
.jpg)
Ada band favorit yang berasal dari Yogyakarta?
[Dedyk] Banyak band-band bagus dari Jogjakarta, seperti Dojihatori, Melbi, Riski Sumerbee and The Honeythief, Frau, Brilliant at Breakfast, merupakan potensi-potensi musisi Jogja yang terus menggenerasi di scene lokal Jogja yang patut di-highlight khususnya dari teman-teman komunitas Indiepop Rising Club.
[Acum] Seek Six Sick. Alasan, karena mereka berani melakukan pendekatan baru, yang mana ketika mereka mulai 1996 or 1996, mereka sudah mencapai status avant garde.
[Irwin] Secara khusus belum ada tapi saya mengidolakan semua band yang bisa konsisten dengan musiknya. Jogja sepertinya cukup kaya akan band - band seperti itu.
Misalnya dalam kondisi harus meng-cover salah satu lagu Iwan Fals, kira – kira lagu yang mana yang akan kalian pilih (alasan)?
[Dedyk] Ujung Aspal Pondok Gede/Sore Tugu Pancoran dan diaransemen dengan versi akustik, lebih mengena mendengar Bang Iwan bermain akustik karena gw lihat di situlah teritori Bang Iwan sebenarnya, lagu ini bisa buat gw merinding, sangat humanis.
[Irwin] Bunga Trotoar, karena sarat akan unsur folk dan blues-nya.
[Acum] Satu Satu, karena lagu itu positif bagi generasi muda.
Pernah merasa bosan mengenai banyaknya tulisan di media yang mengatakan bahwa kalian mirip Stone Roses, Shed Seven atau the Charlatans dan The Smiths ? Seakan akan bahasan tentang Bangkutaman hanya berputar disitu saja. Apa opini kalian mengenai ini?
[Dedyk] Ya saya sedikit bosan karena sebenarnya banyak yang bisa digali dari Bangkutaman, karena pertanyaan tersebut di atas seharusnya hanya eksis di awal-awal Bangkutaman berdiri dan bukan di dekade ini, namun demikian kami tetap mengapresiasi respon teman-teman terhadap progresivitas karya Bangkutaman, tentunya kita semua pasti berubah dan waktu akan menjawab itu semua.
[Acum] Tak masalah, karena mereka tahu siapa kami sebelumnya, itu kan akar musikal kami, itu juga jadi tugas kami lebih keras lagi untuk berusaha keluar dari kukungan pengaruh dan muncul dengan karya khas kami.
[Irwin] Sampai bosan sih belum pernah. Kita sih senang-senang aja. Cuma sampai merenung aja. Bangkutaman seharusnya terkenal dengan musik Bangkutaman, bukan musik “mereka”.
.jpg)
Seiring dengan perjalanan, musik kalian sudah mulai berubah dalam komposisi instrumen maupun sound, kira - kira jika diminta 3 kata/ sebuah kalimat yang mewakili bentuk baru Bangkutaman?
[Dedyk] The world should listen to what we have!
[Acum] LUGAS dan TEGAS mengulas REALITAS.
[Irwin] Idem dengan jawaban Wahyu Nugroho.
*foto: dok.pribadi