![]() |
![]() |
[Uncluster/Interview]---Vokalis yang sudah menempuh hampir 20 tahun lebih perjalanan dalam berkarya ini selalu tercatat sebagai salah satu motor utama pada Pas Band, sebuah band yang resmi dibentuk di tahun 1990 dan dianggap mempelopori gerakan DIY di Indonesia. Dengan mengedarkan sendiri rilisan album pertama mereka “Four Through The Sap” (1993) hingga mencapai 5000 kopi penjualan, dan setelah pada tahun 2008 kemarin merilis album “Romantic...Lies...and Bleeding” bersama Pas, kali ini vokalis yang mempunyai nama lengkap Yuki Arifin Martawidjaja ini kembali muncul dengan project barunya bernama Tendostars, sebuah project berisikan kolaborasi dari berbagai macam dimensi media seni, mulai dari animasi, komik, film dokumenter sampai seni pertunjukan yang sedang menjadi fokus utama bagi kreator kelahiran 31 Mei 1969 ini. Dan lewat project inilah semua konsep dan inspirasinya disalurkan, lewat kondisi Yukie yang dirasa sangat berbeda, baik secara pemikiran, pengalaman maupun pengetahuan yang menurutnya sudah jauh berubah, hal inilah yang menjadi sesuatu yang paling pokok sekaligus sangat menarik dalam Tendostars Project yang sedang dia garap.
Uncluster mewawancari Yukie ketika dia berkunjung ke kantor kami, dan pada kesempatan ini, Yukie banyak bercerita banyak tentang perjalanan dia dalam berkesenian, tentang Tendostars termasuk pengalaman dia saat bekerja sebagai dosen yang menolak sebuah beasiswa prestisius, dan cerita lainya yang tidak kalah menarik dari seorang Yukie, berikut wawancara kami.
Hallo Yukie, apa kabar?
Haloo Kabar baik.
Apa agenda utama dalam waktu dekat ini?
Saya sedang berkonsentrasi terhadap Tendostars Project, termasuk persiapan konser di akhir Juli atau awal Agustus mendatang.
Menurut Anda sendiri apa yang membedakan industri musik lokal tanah air tahun 90an di saat Anda baru mulai dengan kondisi saat ini?
Mungkin begini ya, kalau dulu itu orang bisa mengukur, misalnya ada artis yang menjual 600 juta kopi, ada yang menjual 450.000, 5000 atau 10.000 kopi, dan itu membuat kita tahu jika band ini pasarnya segini, musisi ini pasarnya segini sehingga dirumuskan kalau musisi itu jelas kelasnya. Misalnya ketika album pertama dia cuma menjual 5000 kopi berarti tahun depan dia akan membuat album yang tajam pasar musiknya, karena dia sudah tahu akan seperti apa, misalnya band ini adalah band death metal yang rata - rata mereka untung dari panggung, ya ini aja yang menjadi sasarannya, dan sudah jual kasetnya di pangung saja, dengan itu 5000 atau 1000 pasti dapat atau ada band yang penjualannya mencapai 50.000 kopi, yang penjualan terbesarnya di Kota Medan, Bandung, Yogya dan Surabaya saja, ya udah promosi di situ aja tidak perlu besar-besaran, jadi ada untungnya kan karena terukur, biaya promosinya juga dapat diprediksi dan dikondisikan untuk bisa menutup biaya produksi, jadi semua hidup, karena dapat untung semua bisa survive, tetapi saat ini keadaan sudah tidak seperti itu, sekarang yang mainstream yang survive sedangkan yang tingkat di bawahnya mati.
Kalau ditanya penyebab sekaligus siapa yang bertanggung jawab?
Ada, semua yang terlibat di situ pasti punya kesalahan.
Solusi?
Yang pasti yang bisa membatasi semuanya di sebuah negara itu adalah hukum, itu yang akan mengatasinya, karena orang gila dimana - mana banyak, tukang mencuri dimana-mana banyak tetapi ada di sebuah bangsa yang pencuri itu tidak berani hidup, tidak berani mencuri, karena hukumnya jelas dan berat, semua manusia pasti banyak yang senggama di luar nikah jika itu di bebaskan, tetapi karena ada beberapa negara yang punya aturan keras buat penjinah, tidak ada yang berani melakukan itu dimana saja, jadi kegilaan itu sebenarnya sudah merupakan kodrat dasar manusia dan yang bisa membatasi itu ketika kita bernegara adalah hukum, undang - undang yang tegak dan pelaksanaannya yang benar, jangan seperti di sini, undang - undang baru keluar terus, malah polisi yang makin kaya.
Polisi yang makin kaya, bisa lebih diperjelas?
Di saat MPR ketuk palu untuk mengesahkan undang – undang pembajakan, waktu itu banyak tempat yang berjualan CD bajakan sempat ditutup, tetapi pada akhirnya hidup lagi, dan pembajakan menjadi semakin besar dan Polisi menjadi semakin kaya, ketika undang-undang belum jelas paling Polisi dapat 500 perak, 2000 perak di setiap emper, sekarang itu sudah tidak ada yang kurang dari 10000 perak di setiap emper itu, jadi memang itu lebih kepada ketegasan aparat.
Mengenai opini yang menyebutkan jika saat ini Bandung sedang mengalami sembelit dalam menghasilkan band yang mempunyai materi yang dianggap bagus, apa anda setuju?
Saya rasa tidak, memang sekarang bertebaran ya banyak band yang ingin menjadi pop, ada beberapa teman - teman musisi yang dianggap musisi hebat di tahun 90an, sekarang tida - tiba muncul di TV dengan jenis-jenis musik yang berbeda, memang banyak yang seperti itu, tetapi saya sebagai orang yang lahir dan tumbuh di sini masih tetap merasa bangga, karena ternyata masih banyak band lapisan bawah yang memainkan musik yang gila, mereka memainkan musik yang secara teknis memang tidak ringan, dan yang seperti itu tetap banyak walaupun pada kenyataanya mereka sekarang tidak punya ruang lagi seperti jaman 90an, saat Saparua yang selalu digeber dengan band cadas seharian penuh, atau Dago Tea House dengan band yang mengangkat indie sounds, dan sekarang kita sudah tidak punya ruang seperti itu. Tetapi walaupun seperti itu, kita tidak kehabisan karya, banyak musisi yang bisa bikin sesuatu tetapi memang pola yang sangat terbatas mungkin hanya dengan jualan CD di kampus saja.
Ada album rilisan lokal terbaru yang sedang didengarkan?
Ga ada, karena semenjak saya menjerumuskan diri pada Tendostars Project, saya membuat telinga saya miskin oleh musik lain, saya sengaja membuat telinga saya miskin oleh karya lain, karena sekecil apapun musik atau karya orang lain, mau kita suka atau tidak sama sekali pasti itu berpengaruh dan saya tidak mau pengaruh itu datang dari 2000an, karena saya lebih percaya musik tahun 90an, 80an, 70an, 60an yang sudah pernah masuk ke kuping, dari pada saya terganggu mendengar musik 2000an, jadi biar saja yang nongol dalam proses khayal itu memang memori yang datang dari 90an.
Ada hubungan dengan proses preview?
Jelas ada, tetapi ketika kita merasakan originalitas itu ketika kita tidak mendengarka apa-apa, ketika kita tidak punya sesuatu, seperti Freddy Mercury yang membuat dirinya bodoh terhadap musik yang ada di sekelilingnya dalam seminggu, dan setelah dia melewati itu dan mulai bermain piano barulah lagu super hebat seperi “Bohemian Rhapsody” lahir, jadi ada proses tutup kuping, panggil semua yang ada di dalam, yang di otak belakang panggil keluar, dan baru mainkan!
Selain alam apa yang sangat menginspirasi penulisan lirik?
Semua ya, semuanya yang ada dalam perjalanan saya selama 40 tahun, itu yang selalu menjadi latar belakang cerita dari lirik, kosakata, perjalanan pikiran, perjalanan spiritual, perjalanan ekonomi juga, nah itu semua jadi muatan, perjalan Pas Band juga melatar belakangi.
Semangat Tendostars adalah semangat Pas formasi awal, Anda setuju dengan ungkapan itu?
Kalau semangat iya saya setuju, dan di luar itu saya tidak setuju jadi kalau ditanya Pas Band banget tidak, Tendostars lahir kembali dia reborn dengan banyak pelajaran yang didapat dari Pas Band.
Bagi Anda pribadi apa yang paling berharga dalam perjalanan awal Pas?
Begini, saya merasa bahwa pelajaran yang berharga dari Pas Band jaman itu adalah kita sebagai anak - anak bodoh, naif dan polos, yang berfikir pokoknya musik kami ini ingin seperti ini, tidak peduli orang lain tidak suka, tidak pernah berfikir bahwa ini akan menjadi sebuah perlawanan terhadap musik pop lah, atau untuk musik jazz lah, perlawanan terhadap industri atau apalah, pokoknya kita senang musik kita seperti ini. Pokoknya seenaknya sajalah, dengan latar belakang pengalaman musik yang kita punya tentunya, dan ternyata itulah yang dashyat, ketika kita polos, ketika kita tidak berfikir strategi, ketika kita tidak berfikir terlalu jauh, ya kerjakan saja, atau misalnya gimana caranya biar sampai ke orang lain berarti harus dijadikan kaset, tapi uang dari mana? Ya akhirnya bikin proposal, hal ini dahsyat sekali bagi saya, karena spirit, karena semangat keriangan, kepolosan, karena tidak berasumsi negatif sama sekali, menjadikan itu sebagai hal yang hebat, dan terbukti kan, dahsyat akibatnya, nah pengalaman seperti itu yang saya coba lahirkan kembali pada Tendostars.
Kapan Pas Band mulai berubah?
Ketika Pas sudah merilis 4 album, tingkat pengetahuanya semakin banyak, ilmunya makin banyak, dan mengerti dalam distribusi, tetapi saat itu kita menjadi benar - benar berstrategi, berasumsi, yang akhirnya pengalaman itu malah tidak membuat kita semakin matang, semakin cerdas atau semakin sehat, pintar mungkin iya tetapi semakin sumpek, semakin pahit, semakin negatif, nah saya tidak mau seperti itu, tetapi secara tidak sadar saya terperosok kedalam keadaan itu, kepintaran tidak membuat kita semakin matang, semakin dewasa, tidak membuat kita semakin bijaksana tidak membuat kita semakin ceria tidak membuat kita semakin enjoy, tidak membuat kita semakin baik, justru malah membuat kita semakin culas, nah di sini ada hal yang salah dan perlu diputus mata rantainya, bermusik selama 20 tahun sudah membuat kita pada posisi itu, memperbaikinya susah.
Di awal Pas hanya bersenang - senang tetapi banyak yang setuju dan mencatat Pas sebagai band pendobrak yang berhasil. Kira-kira selain Pas sendiri, apa faktor lain yang paling berperan di sini?
Nah, itulah kehebatan Samuel Marudut, dulu yang melihat potensi itu dan mampu menerjemahkanya ke dalam kata indie label Indonesia, perlawanan terhadap major label industri musik Indonesia yang stagnan waktu itu dan sebagainya, atau inilah bentuk perlawanan, itu kan kata-kata Samuel Marudut, bukan kata-kata dari Pas Band. Samuel marudut yang menangkap lalu menerjemahkanya dengan memborbardir lewat stasiun radio yang dia punya, sampai akhirnya Pas dianggap sebagai band indie label pertama atau perlawanan terhadap major label, pergerakan Do It Yourself, dan sebagainya dan sebagainya, jujur saja kita saat itu polos sekali, dan belum paham mengenai hal itu, kuliah juga masih tingkat 1.
Dalam hal materi musik Tendostars, menurut Anda formula apa yang sangat berbeda di sini?
Secara teknis, Tendostars memang tidak begitu unik ya, karena ini bukan musik yang baru, tetapi kalau dipenggal per-bagan, ini akan menjadi unik, karena ini adalah bangunan emosi yang dibangun dari cerita, jadi dalam satu lagu tiba - tiba bisa terasa sangat sedih sekali, atau tiba- tiba menggeram dan di reff mulai meledak, ya itu benar-benar dipikirkan, apa yang benar-benar cocok di sini, yang sedih itu gimana sih, beat seperti apa, rhythm sepeti apa, pattern seperti apa, lick seperti apa yang cocok di situ, aransemen seperti apa dan itu terus dicari dengan memori kita. Jadi intinya kita sudah sangat melewati persepsi teknis.
Melewati persepsi teknis??
Jadi kan selama ini musisi itu blues ya, rock ya , main jazz hayu, maen swing atau maen apalah, dan semua itu jadi sebuah patron yang sifatnya matematis, kita sudah melewati itu mungkin tepatnya hal itu sudah terlampaui, dan saya rasa kita sudah sampai satu step lebih di depannya, satu dimensi lagi di depannya karena di balik skill apapun tetap yang mahal adalah groove, soul, jiwa, nah itu lah yang dicari, maka saya tidak begitu sulit mengerjakannya, sounds, aransemen yang matang untuk memilih ini pattern yang bagus. Nanti mungkin kalau sudah mendengarkan satu album penuh orang baru akan merasakan bedanya, kok ini ada grunge 90an ya, atau ini kok mirip Lenny Kravitz, kenapa ini seperti Gorillaz tetapi bukan mencuri sepenuhnya, jadi ini adalah bagaimana mengambil nuansa itu dalam perspektif si tokoh tadi bukan saya, bukan Richard bukan Mplay.
Animasi, komik, film dokumenter, kira - kira dalam perkembangannya, akan ada lagi?
Kenapa tidak, kita baru bertemu orang orang yang cocok untuk mengerjakan ini saja, orang yang mempunyai visi dan misi yang sama, mungkin saja karena semuanya benar - benar dipilih.
Ada kendala?
Kendalanya mungkin ada pada siapa orang yang akan kita ajak bekerja sama, karena tidak mungkin saya harus memikirkan gambar, saya yang bikin lagu, saya yang bikn lirik karena bakat saya memang tidak cukup untuk itu, banyak orang yang jauh lebih hebat.
Lalu apakah Tendostars akan berlanjut ke album ke dua dan seterusnya?
Iya Tendostars Project diciptakan untuk tiga album, yang ini Dr. Slam tokoh / kharakter utama yang saya buat baru sampai 35 tahun, saya beharap bisa bikin menjadi 36 sampai 55 tahun, terus 56 sampai mati tapi itu grand design-nya, dalam bentuk, dalam cerita, gambar dan musik sudah terbayang kurang lebih musiknya seperti apa, yang mewakili orang di musik itu, kemasannya kira-kira seperti apa, tapi itu bukan kata mati setelah saya bikin 0 sampai 35 tahun ternyata ada sebuah cerita yang bisa dieksploitasi di era 30 tahun sampai 35 tahun, dan kenapa tidak saya bikin. Sekarang Tendostars album 0 sampai 35 tahun kan ceritanya terlalu banyak, saya hanya mengambil penggalan waktu dia lahir, saya ambil penggalan di usia 2 tahun, saya penggal di umur 16, 21, 26, 30 dan di umur 35, ternyata setelah jadi ini, umur 30 ke 35 ini adalah masa-masa hebat. Ini bisa dibikin lebih detail lagi menjadi cita - cita lain, menjadi album lain, saya bikin aja nanti Tendostars yang hanya umur 30 sampai 35.
Terpikir untuk memasukan elemen musik tradisional?
Nanti, mungkin itu akan ada masanya, jadi saya tidak mau cerita sekarang, nanti malah tidak jadi misteri lagi, dan bukan hanya untuk orang lain tetapi untuk saya sendiri, karena setelah perjalanan saya dengan Tendostars, saya merasakan kegilaan musik yang luar biasa, dan bagi saya walaupun itu bermain kecapi, bermain elektronik atau gitar listrik semuanya hanya media bagi saya, betul- betul ingin memilah yang tepat sebelah mana, yang bisa bersuara, bisa berjiwa, bernyawa dan bisa menjadi inspiring, begitulah kurang lebih.
Waktu keluarnya Richard di album Pas yang ke-4 hal apa menurut Anda yang benar-benar berbeda dari Pas Band?
Ya jelas berbeda, Sandy menurut saya lebih ke pengiring, jadi dia tidak pernah punya ketertarikan terhadap perjalanan, pendalaman karakter, pendalaman jiwa, perjalanan spiritual, perjalanan filsafat, jadi yang dia tahu adalah patron, dan kita cukup puas punya drummer seperti dia, karena di era 2000an karakter seperti Richard mungkin akan sangat tidak populer, atau mungkin malah tidak akan populer di anak – anak Pas sendiri, karena Richard adalah seorang komposer beat yang tidak pernah sekolah, dia komposer beat yang tidak pernah mengerti aturan baku jazz itu apa, swing gimana, fussion gimana, dia tidak pernah peduli kotak-kotak musik yang buat dia adalah penjara bukan fasilitas, kalau Sandi jelas, kotak - kotak musik adalah fasilitas buat dia belajar dan sebagainya, jadi secara teknis pembuatan lagu Richard dengan Sandi sangat jauh berbeda dan itu buat Pas Band merupakan sebuah perjalanan yang tidak bisa disia-siakan. Sandi punya sumbangan yang sangat berbeda, visi musik yang berbeda, itu yang membuat kita kaya mungkin pengetahuan kita tidak akan sekaya ini kalau Richard masih tetap di Pas Band, dan mungkin tidak akan ada Tendostars.
Bagaimana perasaan Anda ketika Richard keluar dari Pas Band?
Saya berteman dengan Richard itu dari SMP, jadi saya sangat mengerti karakter dia, tahu dia dari kecil, jadi saya tahu kalau Richard itu tipe orang seperti apa, kalau ketemu masalah dia akan langsung mengukur kemampuannya untuk melewati masalah itu, kalau dia tidak mampu untuk menyelesaikan, dia akan memilih untuk pergi, itu khas Richard, jadi mungkin biasa saja, karena saya sudah tahu.
Apa alasan paling logis, berhubungan dengan berhentinya Richard dari Pas Band?
Waktu itu dia punya PH yang baru dimulai di tahun '97 dari satu ruangan kecil, satu kamera, satu komputer, dia sendiri yang mengerjakan. Tahun '98 PH dia mulai banyak order, '99 mulai punya karyawan, Richard sendiri kabur - kaburan dalam mengerjakan ini karena dia sibuk tur bersama band, itulah alasan yang paling masuk akal buat dia keluar dari Pas, karena saat itu Richard berasalan jika dia tidak mengurus ini, perusahaan akan bangkrut dan begitu juga dengan nasib pegawai, tetapi kalau keluar dari Pas Band 'kalian kan masih tetap bisa jalan tanpa saya', ya sudahlah kalau seperti itu, saya menimpali 'silakan saja mengurus PH, tetapi saya tidak akan mengambil drummer sampai 1 tahun setengah, kalu kamu mau balik lagi pintunya masih terbuka'.
Pernah terpikir jika Richard akan kembali?
Tidak
Pendapat Anda untuk petisi Paser yang menghendaki Richard kembali?
Menurut saya itu adalah sebuah gosip yang disukai pemain band, keributan soal member, keributan soal menebak - nebak album ke depan itu menjadi gosip yang menarik, gosip yang disukai pemain band. Makanya dibiarkan saja, tidak kita selesaikan biar ribut, biar banyak gunjingan.
Anda pernah menjadi Dosen Sastra Jepang, dalam fase itu hal apa yang menurut Anda paling menarik?
Mungkin sudah menjadi darah saya ya, karena kebetulan bapak saya juga seorang dosen, dan begitu ada kesempatan kembali ke kampus, begitu bisa mengajar di depan kelas, begitu bisa ngacak ngacak buku di perpustakaan lagi, itu menjadi gairah yang luar biasa buat saya. Saat itu saya menikmati sekali karena ketika sudah lulus kuliah saat itu saya merasa jika saya hilang fokus, dan itu priode tumpul dalam hidup saya, masa yang membuat saya tidak berpikir tentang kesenian atau ilmu, yang ada di otak hanya duit, duit dan duit, maka ketika tahun 1997 saya ke kampus, saat itu saya merasa mendapatkan darah baru, seperti dapat pacar baru hehehe, pokoknya dahsyat lah, masuk ke perpustakaan ambil buku sesuka hati, itu bagi saya merupakan kenikmatan yang luar biasa dan dari situ saya baru sadar selama ini band itu bagi saya bukan tempat saya pergi tetapi tempat saya pulang. Dan jika ditanya kemana saya pergi, ke kampus ternyata, sekolah yang membuat saya pergi, iya saya seperti itu.. Pagi-pagi saya pergi ke kampus, walau sering bolos lah, walau sering mengambil buku perpustakaan, kantin, nongkrong, diskusi, nah itu yang membuat saya kaya, dari sana saya belajar banyak tapi ketika priode ini lewat, hilang, energinya hilang, energi bikin lagu, energi bikin karya itu mati di tahun '96, '97 karena yang ada di otak itu hanya duit.
Apa yang membuat Anda berhenti menjadi dosen dan memutuskan untuk meninggalkan kampus?
Persoalannya saat itu, di awal tahun 1999, Indonesia lagi kacau banget, PHK dimana - mana, P&K memutuskan 1 kelas itu harus 60 orang, dan bertambah, sedangkan yang mengajar tidak bertambah, sehingga saya harus menghabiskan 28 SKS dalam seminggu, yang jelas saya sudah tidak bisa pulang, dari Senin sampai Jumat, pagi sampai sore, tiap hari seperti itu, yang kedua persoalannya adalah beasiswa, orang lain dapat beasiswa itu senang ya, saya justru pusing ketika mendapatkan beasiswa dan jujur saja saya merasa panik, tahulah waktu itu saya sebagai anak band hahaha, saya berpikir jika saya nanti pulang dari Jepang saya sudah tua hahaha..
Beasiswa seperti apa itu?
Dari beasiswa termahal yang diberikan pemerintahan Jepang untuk orang asing yang jumlahnya sekitar 230 Yen per bulan, karena paling tinggi untuk orang asing itu hanya 170 ribuan pokoknya dibawah 200.000..
Kenapa bisa terpilih dan apa alasan lainya yang membuat Anda menolak?
Karena waktu itu yang dicari oleh mereka adalah orang-orang yang unik, bukan orang-orang yang pintar ya, tetapi orang dengan penelitian yang goblok hahaha, nah karena saya tidak mau mendapatkan beasiswa, jawaban saya itu seenaknya saja, tetapi ternyata salah, karena yang dicari saat itu adalah orang - orang yang unik, mungkin jika saya tahu sebelumnya, saya akan mengisi pertanyaan biasa saja dan mungkin saya akan membayangkan jika jawaban orang-orang pada umumnya seperti apa. Waktu itu saya membuat penelitian tentang pembedahan perbandingan karya sastra di era sesudah perang dan sebelum perang, jadi orang Jepang itu berfikir seperti apa sih sebelum perang dan sesudah perang, jadi saya bandingkan latar belakang kehidupan karyanya, ternyata itu yang terpilih dan di saat bersamaan saya diangkat jadi pegawai tetap dan ketakutan berikutnya adalah keluarga, karena kita berangkat kesana itu pada 2 tahun pertama tidak boleh membawa anak istri dan barulah jika penelitianya lancar setelah 2 tahun pertama kita diperbolehkan membawa anak istri dan jujur saja saat itu anak saya sedang lucu-lucunya, dan saya tidak akan melihat dia selama 7 bulan dalam setahun, waaa saya langsung takut, karena kejadian ini persis dengan kejadian yang saya alami dimasa kecil, waktu itu Bapak saya juga mendapat beasiswa ke Jepang saat saya dalam kandungan yang ke 7 bulan dan itu dampaknya besar sekali, karena akhirnya ketika dia kembali saya merasa asing dengan sosok bapak saya.
Di usia berapa melewati masa tersulit dalam hidup?
Mungkin di usia 26 tahun ya, entah kenapa saya itu bisa melihat mahluk halus, ya pokoknya kaya orang gila aja lah, dan mau kemana - mana membuat saya mikir dulu, pokoknya gila lah, tidak bisa pulang malam karena suka melihat yang aneh, terus kalau saya diajak menginap di rumah teman yang baru, saya harus bertanya dulu, kalau rumah itu bangunan tua saya selalu menolak, sampai pernah dibawa ke paranormal segala, tapi tak pernah sembuh sampai saya sempat di mandiin di pinggir jalan, coba bayangkan air dingin 1 ember besar, ditambah kembang, dan saya dimandiin malam – malam di pinggir jalan, dan itu Bandung tahun 90an, kebayangkan dinginnya hahaha, dan jika udah melihat sesuatu, keringat itu seperti butir jagung hehehe, nangis susah, lari susah, susah lah pokoknya. Saat itu mental itu dihajar habis-habisan.
Apa yang membuat itu kembali normal?
Ga tau ya, itu hilang sendiri.
Selain single, kapan materi Tendostars launching dan akan seperti apa bentuknya?
Nah, kalau itu mungkin tanya ke bagian pemasaran, itu tugas mereka bagaimana mengemas ini.
Oke Yukie terima kasih.
Ya nuhun, terima kasih juga Uncluster.[teks:eka/foto:Opick]
***
YUKIE ARIFIN: BEHIND ANY SKILL, THE VALUABLE ONES IS STILL THE SOUL
[Uncluster/Interview]---This is Indonesian male vocalist, who has been 20 years creating compositions for the band he established Pas Band in 1990, and to the date the band has been assumed as a pioneer of Indonesian indie (do-it-yourself) movement. Pas Band distributed their first album (Four Through The Sap/ 1993) themselves, which the sales reached 5.000 copies locally. After they released the last album “Romantic...Lies...and Bleeding” (2008) with major Aquarius Records, this time Yukie Arifin Martawidjaja is back with his newly project called Tendostars, a project containing combination of various types of art media; animation, comics, documentary movie to performance art, which is now being the main focus for the man who was born in Bandung, 31 May 1969. In this project, all his own ideal concepts and inspirations are expressively emerged, through Yukie’s conditions which are now looked extremely different; either his ideas, experiences also his knowledges, which he thinks have already extremely changed. Those are the essences and interesting points of the Tendostars Project.
Uncluster interviewed Yukie when he made a visit to our office. This time, Yukie told us a lot about his long journey in art, about Tendostars, including his experience as a lecturer (Japanese Language), who then refused a prestigious scholarship he accepted, and other stories from and about Yukie. Following is the interview.
Hello Yukie, how do you do?
Hello, I’m fine.
Is there any your important agenda for the near future?
I am now concentrating for Tendostars Project, including preparations for planned concert at the end of July or the beginning of August.
In your opinion, what factors that differentiate the local music industry of 90’s (the time Yukie started his career in music-ed) with that of current condition?
In my opinion, in that old times people may freely asses, for instance; there was an artist who reaches 600 million copies sales, or 450,000, 5,000 or 10.000 copies, and it tells us how the artist’s market would be, the market of certain musicians whould be ‘like this’ and so on, the classification of the mentioned musician should be clear. Another example; sales of the first album of an artist was only 5,000 copies, that means in the subsequent year the artist would make a definite market, he/she knew how his/her market would be. A death metal band reached their revenue through their shows in average, so then shows would be their only targets, just sell the cassette and CD during their show, therefore, sales up to 5,000 or 10,000 would be positively reached. Another example, maybe there were some bands, which their sales reached 50,000 copies, and the highest sales were reached only in cities of Medan, Bandung, Yogya and Surabaya. As a result, their promotions would be unnecessarily in large scale, because it may be no earnings for such way of promotion. Since the market was measureable, the promotion cost would be predictable and should be conditioned in order to cover production costs, so everybody involved would be lived on, survive, but nowadays situation is not alike, the mainstreams would be survive, contrarily the rest (‘beneath’) would be dead.
Who shall be responsible for such current conditions?
Everyone, those who are involved inside the industry must have mistakes.
Solutions?
One that shall be capable of restricting the situation is the law, there are many wild people, thieves are everywhere. I’m sure that there must be a country where thieves are dare not to live, they do not have any bravery to steal, because the law and punishment are clear and severe. For instance, there must be so many people who have sex already before they are enganged/ married, laws in some countries are freeing such behavior, but there are also other countries which possessed clear and decisive laws for adulteries, no body dare to do so. Craziness or wildness have been the human’s basic destiny and one that might be able to restrict the condition is just the law, stricted laws and truthful practice. In this country, once any laws is applied, then only police who may get a richer life.
The police who may get a richer life, can you explain?
As MPR (Indonesian People’s Consultative Assembly) ratified the laws on piracy, afterwards many shops selling pirated CD were closed, but then they re-emerged, and piracy was getting exceeded, police is actually getting richer. When the laws was still as a bill, cops may get only IDR 500, or IDR 2,000 from each street seller, nowadays they can get IDR 10,000 from each seller. So, the problem is on authorities’ firmness and allegiance.
Today, there is an emerging public opinion that proposes Bandung is experiencing constipation, barren of producing fresh bands that shall bring commendable and unique idea, do you agree?
No I don’t agree. Actually, currently there are innumerable bands, who surely wanted to be top bands, there are few of my musician friends who were assumed being popular and adorable in 90’s, now they are suddenly appeared on TV with different kind of music. Sure, there are many such bands, but to me, a man who was born and grown up here (in Bandung), I am still proud of those of local musicians, those from underground, still play crazy music, they play a music which technically is not easy to be listened. There are still numerous bands existed, although in fact, they do not have enough space anymore for gigs alike those of in 90’s, a time when Saparua Sport Hall always had been thrashed by rock bands a whole day, or Dago Tea House was occupied by indie sounds bands. Now, Bandung does not have such space. Nevertheless, we are not loosing art creations actually, there are many musicians able to make something (recordings-ed), but maybe they only have limited pattern, such as selling their do-it-yourself CD in campus.
Is there any local newly album you are now listening to?
Nope, as of the time I lost in thought for Tendostars Project, I made my ears restricted for other music, I did this on purpose, since any small effect of someone else’s music works, whether we like it or not, they shall have influences and I shall not fond of 2000’s influences. It is because I prefer those coming from 90’s, 80’s, 70’s, or 60’s which once have affected my ears, instead of disrupted by 2000’s music. So, I let everything evolved into my creative process, which are those coming from memories of 90’s.
Is there any relationship with preview process?
There is indeed, but we may feel our originality when we do not hear anything, when we do not have anything. Just like when Freddy Mercury made himself be foolish on any music around him within a week, then after he got through that and started to play his piano, super great songs were successfully composed, such as “Bohemian Rhapsody”. So, there shall be a process of closing your ears, recall everything inside your mind and heart, recall what’s on your brain behind, then just play it!
Other than the nature, what did inspire you in writing lyrics greatly?
All, everything that is existed during my 40-year journey, that’s always be the background of my lyrics, dictionary, mind journey, spiritual journey, economic journey too, all of them are the contents, including Pas Band’s journey.
The spirit of Tendostars is spirit of the Pas Band’s first formation, do you agree with that?
If you say it ‘a spirit’, I agree, other than that, I don’t. So if you asked me about it, this is not all about Pas Band, Tendostars is a reborn, after I learnt many things from Pas Band.
For you, personally, what is the most valuable thing you got during the beginning era of Pas Band?
I think, the valuable lesson I get from Pas Band then is that we were just foolish kids, naïve, we just thought that we wanted to play ‘a kind of this music’, we didn’t care whether people like or don’t like it. We never think that our songs would be contrariness against pop music, or jazz music, a defiance against industry, whatever, basically we love our music, just like that. We did them almost instinctively, surely with our each music experience background, and that was the terrific ones, the time when we were just naïve boys, when we didn’t yet think about (commercial-ed) strategy, the time when we didn’t think forward too futuristic, we just did it, trying to find any way on how to make our music be listened by people at large, so we must compile them into cassette, but what about the money? Finally, we prepared a written proposal, that was a terrific ones for me, because the spirit and ardour passion we had, naite, we didn’t assume negatively at all, and they all made a great thing, and you see the real proof, those old experiences I am now trying to reborn in Tendostars.
In your opinion, when was Pas Band started to change?
It was when Pas released the 4th album. Our knowledges have been increased, we understood what distribution is, so then we started to get on to strategies, assumptions, which I think those are new experiences that did not make us grown up and mature, more intelligent or healthier. Perhaps we were cleverer indeed, but contrarily we became giddier, found more bitterness, more negative, I didn’t want to be like that at all, but instinctively I was fallen down deeper into such condition. Cleverness did not make us grown-up, it did not make us become wiser, happier and better, it made us malevolent, there was something went wrong and we should break up the chains. We had been in music for 20 years, we got the position, and we found it difficult to fix up.
In the beginning era, Pas was having exaggeratedly fun, but many people agreed it, and history has recorded Pas Band is a local successful advanced band. Other than the Pas Band itself, is there another most dominant factor?
It was Samuel Marudut’s brilliance, he was the one finding the potential and successfully interpreted it into an Indonesian indie movement, a counter step against Indonesian major labels industry, which was having sustained situation at the moment and so on, therefore we were kind of the counters, that was Samuel Marudut’s words, not Pas Band’s. Samuel was the man who grabbed and interpreted it by striking the situation through radio station he owned, until Pas Band was assumed as the first indie label’s band or counter attack against major labels, Do-It-Yourself movements, and so on and so on. To be honest, we were very naïve then, we didn’t understand it yet, we had just entered first year at university.
Talking about Tendostars’s materials, according to your opinion, can you tell us the very distinctive formula on the project (in compared with Pas Band concept-ed)?
Technically, Tendostars is not too distinctive I think, because this is not a new music. But if it is fragmented per segment, it becomes unique, because this is an emotions’ structure that was built based on basic story. You will find a sudden bitterness inside particular song, or suddenly angry and you’ll find it exploded in chorus part, yes we consider it really, what would be truly matched there and there, how a misery should be portrayed, what beat we shall perform, the rhythm, the pattern, the harmonized lick for the song, the arrangement and so on. We are thriving to find them through our memories. So essentially, we have passed the technical perception afar, I think.
Passing the technical perception?
In my opinion, musicians would play blues, rock, jazz or swing or any other music, and all of them are in mathematical patterns, maybe we have passed that phase. We got beyond them, we have one step ahead, another one dimension ahead, because behind any skill, still the exclusive and valuable ones is the groove, soul, that’s the one we are searching, so I didn’t find quite great difficulty in doing it; I found the best and matured sounds, pattern as well as arrangements for the project. Perhaps, one needs to listen to the album entirely, therefore he/she would feel the difference. You’ll find 90’s grunge, Lenny Kravitz’s style alikes, Gorrilaz alikes but these are not entirely mimicry, the album is all about how we took the nuances from the perspective of story’s figure, not me, not Richard (the drummer), neither Mplay (guitarist).
There are animations, comics, documentary movies, do you think there will be another expansion for the project?
Why not? We have just met with matched persons for making the project, people who have similar vision and mission, it is perhaps we have to make it in very selective process.
Any obstruction?
Maybe on that selection process, persons that we really need to cooperate. Because it is impossible if I must think about the pictures meanwhile I compose songs, write the lyrics, I’ve got not much talents, I know there are more brilliant people out there.
Do you think Tendostars will be followed by second album and so on?
Yes. Tendostars Project was planned for three albums, this one (the first-ed) is about Dr. Slam, the main figure/ character I created, which his story I made for up to 35 years old, and I wish I could make other stories for his 36 years old times, 55 years old, up to his death. That’s the grand design. I have already imagined how the outline, stories, pictures and musics would be. Music that shall be represented the figure on the story, how the packages should be. But then, however they are not the stricted outlines, I found another potential story to be exploited inside the frame time of 0 through 35 years old, in the middle of 30 through 35 years old era, and I decided to include them. The current Tendostars’ album is containing story taken from 0 to 35 years old era, and I found there are too much stories to tell, I just took the period when he was born, I took the fragment when he was 2 years old, then I fragmented them for 16, 21, 26, 30 and finally at 35 years old. I found there is great period between the age of 30 to 35. I found there shall be more detailed in story and shall be another wish, so it might be another album to make. So, perhaps I will make a Tendostars album for special period of 30 to 35 years old.
Do you have any thought of taking in traditional music elements?
Next time, maybe it will be a time for it, I shall not tell it now, I’m afraid it will be another mistery not only for people but also for myself too. It is because after I’ve involved myself with Tendostars, I feel an extraordinary musical craziness on me, and for me now even though I may play kecapi (Sundanese traditional music instrument-ed), electronic instruments or electric guitars, all of them are just mediums for me, I really want to choose and divide ones that is really proper, one that has right tones, soulful, lively and inspiring.
When Richard decided to leave by the production of Pas’ 4th album, do you think there was something really different from the past Pas Band, then?
Yes, it was obviously. I thought Sandy was merely a rhyhtm section, he never had any desire to take part in our ‘journey’, exploring his character, soul, spiritual journey, philosophy, he just knew the Pas’ musical pattern, and we were satisfied enough having him as a drummer. Since in 2000’s characters of Richard alikes would be extremely unpopular, or maybe would never be popular for the Pas’ guys, perhaps it is because Richard is a kind of beat composer who had never been studying music formally, he is a beat composer who never understands standard rules on what the jazz is, what the swing is, what fusion is, he never care about it. To Richard, they were music ‘dissections’ which become ‘jails’ not facilities. While to Sandi, those are clear things, music separations are facilities for him to learn and so on. So, technically, composing songs with Richard is quite very different with Sandi, and to Pas Band, it was a too-precious time. Sandi has a very different contribution, different music vision, it made us richer in music knowledge, perhaps we might not as ‘rich’ as this if Richard still stay in the band, maybe there would be no Tendostars.
How did you feel when Richard left the band?
We have been close friends since our Junior High School (SMP-ed), so I really know his character, I know him so well since he was a little boy, I know what kind of man Richard is. Whenever he finds a problem, he would promptly gauge his capability in order to resolve the problem, whenever he is unable to resolve, he would choose to leave, that’s Richard’s unique character, so it would be not a strange thing for me, because I knew it already.
Is there any other reasonable reason, concerning Richard’s leave from the band?
In 1997, he has a new production house business, he started it with one small room, one camera, one computer, he did it by himself. In year 1998, orders were getting on increased, in 1999 he has a few employees, and Richard often left the business while he got busy of touring with the band. I think that was the most logical reason that he left Pas. At the moment, Richard said that he was unable to take care the business he owned, his company and employees would be neglected and finally bankrupted. He said if he leaves Pas Band, 'we would be able to keep on play without me'. OK, then I said to him, “if you want to do so, just carry on your production house business, but I would not recruit anyone else as our new drummer until the next one and a half year, whenever you want to return to the band, the door would be still opened’.
Did you ever think that Richard would be back?
No, never.
What is your opinion about Pasers’ (Pas Band fans club) petition inquiring Richard to return?
In my mind, that is a gossip which any band’s player likes it, disputes on the band’s members, arguments on speculations of expected subsequent album, it’s always been an insteresting gossip, and any band’s member likes it. So just let it flows, we don’t have to solve it, just let it becomes uproar.
You were once a lecturer of Japanese Language, what was the most interesting thing during that phase?
Perhaps it was my destiny, my father was once a lecturer too, and once I had a chance to go back to campus, once I was able to teach in front of my students, and once I was able to pick up books at the library, that becomes an extraordinay desire for me. I was enjoying it so much, because at the time I graduated I felt I would lose focus, and it was unproductive mind period in my life. That was a time whem I never thought about art or science, there was merely money in my mind. So, when I returned to campus in 1997, I felt I got a new spirit, just like meeting a new girl friend, hahhaha, amazing, entering the library whenever I like to, that was a great joyfulness for me, and since then I was awaken, that the band was not the place I went for, it is the place where I come home. Then, if you asked me where shall I go, I went to campus, and actually the campus made me leave for, just like that. Every morning, I leave for campus, sometimes I play truant, I often steal books from the library, hang on at café, get on discussion, those made me richer, I learned a lot from those, but as this period is passed, the energy was lost, the energy of composing song was dead in years of 1996-97, because I got merely money in my mind.
What made you resigned as lecturer and decided to leave campus?
In the beginning 1999, Indonesia was in chaos, you know that, that was the problem. Plink slips were everywhere, Ministry of Education decided that one class was for 60 students, and the number was increased, meanwhile the number of leturers was not added, therefore I must accomplish 28 SKS (semester credit unit) in a week! As a result, I couldn’t back home anymore then, from Monday through Friday, from morning to evening, just like that everyday. The second problem was scholarship. Anyone else maybe delighted for accepting a scholarship, otherwise I was confused as I receive a scholarship. To be honest, I was in panic, you know I was a band boy hahaha, I thought the time when I get back from Japan, I would be old already .. hahaha..
What scholarship did you get?
It was the most expensive scholarship provided by Japanese government for foreign students, allowance was up to 230 Yen per month, while the highest allowance for foreign students was just 170 Yen, then I was honored.
How could you become as a chosen one, any other reason that you rejected the scholarship?
Because at the time, they were looking for unique persons, not smart ones, they needed person who may get on research foolishly hahaha. So since I didn’t have any desire to get the scholarship, then I answered the questions carelessly, but I realized it was wrong, actually they looked for unique persons, perhaps if I knew it earlier, I would answer the questions normally and I may imagine how do other people answer it. At the moment, I made a research comparing poets writing between before and after war eras, how did Japanese people think before war and after war. So I compared the life backgrounds concerning the poets, and at the end my research was successfully selected and concurrently I was assigned and promoted as permanent employee, and the next worry was about my family. If I choose to accept it, I must not take my family to Japan for the first 2 years, and whenever my research is proceeded after the concerned first 2 years, then I may bring my wife and children. To be honest, my children was infant at the moment, they were so funny, I may not be able to see him for 7 months a year, whoaa I was scared. That situation was very similar with I experienced, my father was awarded a scholarship for study in Japan too, it was when my mother’s 7th month pregnancy of me, and the consequence was huge, because at the time he returns home, I felt he was a strange man for me.
At what age did you find a most difficult time in your life to the date?
Perhaps when I was 26, I didn’t know how, I can see ghosts, I felt I was just like a crazy man, and it made me always consider before I decide to go anywhere, it was insane, I couldn’t come home at night since I always find something strange. Whenever I got new friend and asked me to stay at his/her house, I must ask him/her whether the house is an old building or not, I always refuse if it was an old house. Even I was taken to an oracle too and I was bathed on streetside, but it had never been relieved. Can you imagine, a big plastic bucket of cold water at night, plus ritual flowers, it was in Bandung at the end of 90’s, can you imagine the cold condition? Hahaha. Whenever I saw or found ghosts, I got sweaty a lot, hard to cry, hard to run away. My mental was extremely shocked.
And what made it back to normal?
I didn’t know, it was dissapeared itself.
Other than single, when will the Tendostars’ materials be launched and how the form will be?
About that you can ask my marketing manager, that’s his responsibility to set them.
OK, Yukie, thank you.
Yes, you’re welcome too, Uncluster.com.
[translated by: Rizkal Dicky Satriadi]
| Comment |