![]() |
![]() |
[Uncluster/Hermusic]---Pencarian jati diri memang merupakan sesuatu yang sulit, itu juga yang dialami seorang gitaris wanita bernama Sarah. Ya, Sarah Rachelea, gitaris dari band Virgin Oi! ini mengaku mengenal kultur punk dan skin saat ia berusaha mencari jati dirinya. Filosofi skin head mengenai hard worker, working class, proud, nasionalist, equality, solidarity dan liberty baginya merupakan hal yang baik dan contoh semangat yang patut ditiru. Walau begitu Ia tidak merasa capable untuk dicap sebagai skinhead, ia lebih leluasa disebut Herberts karena hanya memainkan musiknya dan menyukai fashion dan kulturnya. Uncluster.com mendapat kesempatan untuk mewawancarai Sarah di sela-sela kesibukannya, check this out!
[Uncluster] Halo
[Sarah] Halo juga
[Uncluster] Lagi sibuk apa sekarang?
[Sarah] Kesibukan? Saya gak punya kesibukan, kalo sok sibuk iyah, hahaha. Daily activities sih, membenahi hidup sambil merintis band. Sekarang lagi giat nulis dan fokus bikin lagu.
[Uncluster] Seberapa penting musik dalam hidup kamu?
[Sarah] Music is my absolute desire. Musik membuat saya merasa "bekerja dalam arena bermain". Menurut saya, hanya musiklah yang mampu membuat para pelakunya bekerja sambil bersenang-senang dan bersenang-senang selagi bekerja..
[Uncluster] Apa yang langsung terpikirkan saat mendengar kata 'musik'?
[Sarah] Cuma musik yang bisa menyita fokus saya sampe sedemikian rupa, selain si dia, haha. Musik itu ajaib, seperti candu. Dia bisa mengendalikan hidup, perasaan dan pemikiran saya. Mungkin karena saya orangnya moody. Musik bersifat spirituil, mistis, haha. Musik seperti media yang bisa menghubungkan siapapun dengan apapun dalam keadaan bagaimanapun. Kalo aja musik itu laki-laki, udah pasti saya kawinin, haha.
[Uncluster] Kapan kamu mengenal Skinhead?.jpg)
[Sarah] Saya yang waktu itu masih dalam proses pencarian jati diri, kemudian menjadi tertarik pada poin-poin positifnya dan menemukan beberapa kecocokan dengan prinsip hidup saya. Kebetulan keluarga saya ada yang Muslim dan Nasrani, plus peranakan hasil berbagai suku dan ras. Ya saya suka aja sama sub-culture yang menyuarakan isu anti-rasis dan fasis bahkan sampe ada kategori politiknya segala semacem: SHARP (Skin Head Anti-Racial Prejudice) dan RASH (Red and Anarchist Skin Heads).
[Uncluster] Selain itu ada lagi ga alasan yang bikin kamu suka kultur skinhead?
[Sarah] Saya juga nggak suka dunia politik, sub-culture ini punya Apolitical atau anti-politik Skinhead yang dikenal dengan istilah Trojans. Memang ada juga Bone Head/ White Power Nazi Skin Head yang sering bertingkah seolah-olah Skinhead itu rasis dan fasis. Tapi sebaiknya jangan langsung berasumsi jelek dulu. Semua itu tergantung dari seberapa baikkah kita mengenali seluk-beluk history dan roots Skinhead. Namanya juga akulturasi, saring aja, buang jeleknya, implementasikan positifnya.
[Uncluster] Bisa ceritain gimana awal kamu bermain musik?
[Sarah] Saya lahir dalam keluarga penyuka musik. Awalnya saya lebih suka nyanyi. Tapi dasar mungkin karena sedikit pemalu, saya rasa saya nggak bakalan all out kalo cuma nyanyi doang. Kelas 5 SD saya tertarik belajar gitar dari papa saya. SMP saya ikut ekskul seni, teater dan mulai sering nge-jam bareng teman-teman sekolah, baru kemudian mengenal scene dan kultur punk juga Skinhead, lalu lahirlah Virgin Oi! band saya.
[Uncluster] Kenapa memilih gitar?
[Sarah] Karena cuma itu instrumen yang saya bisa, hahahah, sebenernya saya juga pengen banget maen drum, tapi selain kurang power lagian nggak bisa-bisa amat. Pengen juga bisa maen piano dan biola, tapi nampak kurang gagah, hahaha. Entah bagaimana gitar lebih menarik perhatian saya. Gitar nyaman dimainkan dan cukup sederhana. Meskipun pada awalnya jari-jari tangan kiri saya sempat menjadi korban kejahatan senar-senarnya. Mungkin kalo untuk instrumen laen, saya cukup tau aja. Bagi saya, minimal saya harus tau dan paling nggak, bisa sedikit memainkannya.
[Uncluster] Pengalaman paling berkesan selama bermain band?
[Sarah] Wah banyak banget pastinya. Dulu saya pernah manggung sambil duduk bersila gara-gara lupa bawa strech gitar, so silly. Saya juga pernah nggak sengaja bikin lagu buat Virgin Oi! waktu lagi nyetrika baju, bodor (lucu). Cuman yang paling ngena, musikalitas saya pernah diragukan oleh cowo-cowo. Hanya karena ngeliat saya cewe, terus belum juga apa-apa udah meng-underestimate duluan. Awalnya saya sempet merasa tersinggung tapi kalo dipikir-pikir ngapain juga kesinggung, ini bukan masalah gender mana yang lebih layak menang, masalahnya cuma di saling menghargai aja sih. Akhirnya saya jadi lebih termotivasi aja. Tanpa bermaksud untuk terlihat seperti seorang feminis, saya hanya ingin mengaktualisasikan diri dengan mengedepankan pemikiran dan pandangan saya sebagai cewe yang menyukai musik. Memainkan musik melalui persepsi perempuan, dengan cara yang sangat perempuan hahaha. Mungkin atas dasar itulah saya ingin memperlihatkan cewe juga mampu memainkan musik keras cadas yang nggak kalah kompeten dengan cowo seperti Punk dan Metal. Girl Power rules!
[Uncluster] Hal yang bikin kamu down selama bermain band?
[Sarah] Virgin Oi! udah ada sejak taun 2002. Selama perjalanannya, kami sudah 2 kali merencanakan rilis album yang tertunda karena personilnya yang keluar dan menikah. Udah nggak keitung deh berapa orang hehe. Hal itulah yang sering bikin saya down. Sulitnya mencari personil perempuan yang satu visi misi dan sungguh-sungguh mau serius bermusik. Tapi thank God akhirnya di akhir 2008 saya bertemu dengan 2 personil baru yang sekarang. Mudah-mudahan formasi yang terbaru ini bisa lebih solid dan bertahan paling lama. Yang jelas, dari pengalaman saya, bekerja sama dengan band cewe dan cowo itu beda. Virgin Oi! formatnya cewe semua, otomatis segala sesuatunya jadi lebih ribet dibanding kerjasama bareng cowo. Perlu teknik tersendiri untuk menyatukan visi misinya. Kadang hal itu juga suka bikin saya down.
[Uncluster] Pandangan keluarga kamu tentang genre yg kamu geluti sekarang?
[Sarah] Secara keseluruhan mereka semua mendukung. Dulu emang sempet meragukan dan ngasih larangan, mengingat keluarga besar saya cukup kolot. Tapi mungkin karena ngeliat konsistensi saya, akhirnya mereka mendukung juga, hehe.
.jpg)
[Uncluster] Musisi yang paling menginspirasi kamu?
[Sarah] Huaaa gimana yah, saya omnivora, saya suka semuanya. Yang pasti, saya selalu mengagumi dan respek sama semua musisi perempuan baik lokal maupun luar. Kalo untuk gitaris, saya suka Willie Adller gitarisnya Lamb of God, Joe Satriani dan Tom Morello juga suka. Untuk musisi perempuan, saya lagi suka banget sama Imogen Heap, she's genius. Musisi lokal perempuan, saya suka Dina Homogenic. Gitaris lokal cowo, Choky Netral dan Eben Burger Kill. Band favorit saya untuk saat ini adalah H2O album Nothing to Prove. Pokoknya, kepiawaian setiap musisi jenis musik apapun dalam meramu aransemen yang ciamik selalu bisa dijadikan sumber inspirasi.
[Uncluster] Apa musik yang kamu suka? Apa sudah terwakili di band yang sekarang?
[Sarah] Sebagai pendengar musik, saya menyukai ambient. Entah itu unsur ambient pada musik electro, shoegaze, classical, post rock juga metal yang unsur ambient-nya kental. Tapi sebagai pemain musik, saya memilih memainkan musik yang gagah, perpaduan dari power chord dengan sound distorsi tough-guy. Thank God sudah cukup terwakili dengan band-band yang saya punya sekarang. Tinggal dimaksimalkan aja.
[Uncluster] Kamu kan suka musik tough guy, tapi kan Virgin Oi! genre nya punk, gimana itu bisa terwakili?
[Sarah] Basicly roots Virgin Oi! adalah Street Punk n Skin, tapi di-improve dengan aransemen yang lebih variatif. Selain beat yang cukup kenceng, saya kemudian mengadaptasikan sound distorsi gitar tough-guy ke dalam lagu-lagunya. Unsur tough-guy cukup terwakili dari sound-nya, lebih ke eksplorasi sound aja sih.
[Uncluster] Rencana rilis album?
[Sarah] Kemungkinan rampung paling cepat sih tahun ini, saya dan temen-temen masih prepare buat recording dan mesti nambah dua lagu lagi nih. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan matang-matang. Doakan aja supaya semuanya lancar dan kami bisa ikut meramaikan blantika musik indie-underground Indonesia.
[Uncluster] Band lokal yang menurut kamu layak disimak?
[Sarah] The Authentics, karena mereka berhasil nge-blend musik ska, swing, soul dan blues. Konsepnya unik dan kuat, beda aja di mata saya.
[Uncluster] Lima lagu favorit kamu?
[Sarah] Yah jangan lima dong, susah milihnya. Sepuluh aja yah? Nih lagu ajaib favorit saya. Imogen Heap - Between Sheets, Lamb of God – Redneck, Throwdown - I Suicide, The Fashion - Let's Go Dancing, Kyte – Planet, Rage Against The Machine - Renegades of Funk, Killswitch Engage - My Curse, Slipknot – Vermillion, Joe Satriani - Always With Me Always With You, Alanis Morrisette – Learn, dan ini bonus tracknya Mae - Fallin' in to You. [Iqbal Roseno]